Kita semua pasti setuju jika ada yg mengatakan semakin bijak seseorang maka dia akan semakin rendah hati,rasanya sebuah kebenaran yang sangat kuat.sedari dulu orang sudah mengatakan tentang ilmu padi,makin merunduk makin berisi.
Anda pasti tahu tentang teori kebutuhan Abraham Maslow yg sangat terkenal itu bukan?
menurut Maslow ada 5 kebutuhan dasar :
Fisiologis dasar —-> Rasa Aman & Tentram —-> Dicintai & Disayangi —-> Dihargai —-> Aktualisasi diri.
Demikian pula
Rogers dalam Schultz (1991) menulis tentang aktualisasi diri sebagai berikut :
Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi –potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak – kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.
Nah saya kebetulan mempercayai bahwasanya untuk menjadi diri sendiri kita tidak perlu menjadi sesuatu dulu baru kemudian kita bisa percaya diri apalagi bisa bahagia. do you really believe that all the wealth in the world can make you happy? atau hanya sekedar percaya diri? percaya diri yg bagaimanakah jika anda butuh uang untuk melakukannya? kalau anda masih menempatkan kebahagiaan dan kepercayaan diri ataupun harga diri anda pada sesuatu di luar sana (baik itu kekayaan,nama baik,pangkat,jabatan,dll) berarti kebahagiaan dan harga diri itu bukan milik anda,tapi milik semua harta dan jabatan serta nama baik yg anda banggakan tersebut dong? betul gak? correct me if i’m wrong, tapi semua yg anda cari itu telah ada dalam diri anda,hanya dengan terlahir sebagai manusia ,tidak ada orang yg pantas merendahkan anda,anda mulia sebagai manusia.
Saya mengamati dalam hidup ini,ada orang yg saya kenal sebelumnya orang biasa,setelah jadi terkenal (jadi artis gitu loh,hehe) sikapnya ke saya berubah, bukannya mau protes,itu hak dia sih begitu (saya dan kawan saya menyebutnya sindrom jadi artis dan orang terkenal). tapi di sisi lain ada juga yg tetap biasa,ibaratnya biasa makan tempe ya tetep makan tempe juga sehari2nya,gak sombong kalo ketemu,dan mau negor duluan. nah menarik bukan untuk keduanya ada contoh yg bisa saya pakai.
Kawan2 semua tentu tau dong dengan slank? band ini luar biasa terkenal di indonesia dengan para fans fanatiknya. anehnya walaupun banyak fans dan sebegitu terkenalnya mereka masih tetap mudah untuk ditemui sehari2. tongkrongan mereka di jalan potlot ,kawasan duren tiga terbuka untuk siapa saja.
Kebalikan dengan mereka,ada band yg terkenal dan sangat menjaga image sekali (gak usah disebutin siapa ya,hehe). mungkin saja prinsip mereka menjaga ekslusifitas dengan tidak mudah bersoalisasi, sehingga mereka punya citra yg demikan ekslusif. mungkin seperti di film yg pernah saya tonton , band ini punya prinsip ‘ celebrity is celebrity as’ alias dengan bersikap seperti seleb maka dirinya akan merasa menjadi salah satunya pula. tapi jika memang demikian mengapa ekslusifitas yg begitu diagungkan oleh band ini tidak menjawab mengapa dengan prinsip egaliter (kebersahajaan) yg dianut oleh slank,konser2 slank nyata2 tetap selalu ramai dan penuh di setiap kota, dan penggemarnya pun tetap fanatik,walaupun kenyataannya para fans bisa bertemu setiap saat? (tinggal datang aja ke potlot,apa susahnya?)
Dari contoh2 diatas tentu terlihat bahwa sebenarnya konsep ekslusifitas yg diagungkan oleh band tersebut(dan orang2 yg merasa dirinya lebih) bukanlah sebuah hal yg riil,atau bisa dikatakan hanyalah ilusi semu belaka. seorang pakar psikologi terkenal les giblin mengatakan : orang yg egois dan mementingkan diri sendiri bukanlah orang dengan harga diri yg tinggi,justru mereka kekurangan harga diri,alias harga dirinya rendah. pertanyaan dari saya adalah apakah orang yg merasa dirinya lebih bukan cenderung egois? tidakkah ia nantinya juga berharap untuk ditegur duluan? (karena merasa lebih terkenal? lebih tinggi pangkatnya? lebih cerdas?)
Saya kembalikan kepada anda untuk menilai,perlukah kita mengekslusifkan diri dalam pergaulan sehari2 agar punya nilai lebih (ekslusif) ? atau lebih baik kita tetap jadi egaliter? toh bukankah semua manusia adalah sama dimata sang pencipta?
Meminjam istilah Gede Prama, beliau mengatakan bahwa hidup ini bagaikan roda yg berputar,segala macam harta,jabatan,popularitas, pada hakekatnya hanyalah berada disisi luar dari roda tersebut,mereka tidak abadi,seiring waktu akan naik dan turun. hanya dengan berada di poros rodalah maka kita tidak akan terombang ambing oleh lingkaran tersebut,di tengah lingkaran tidak terjadi perputaran.
Jadi baiknya gimana? yah biasa ajalah jadi manusia,gak usah merasa lebih dari yg lain,kita semua sama2 diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan,kalaupun punya kelebihan jangan membuat kita meremehkan orang lain,itu saja.
Dan untuk band yg tidak saya sebutkan tadi? saya rasa mereka memang belum sampai di puncak segitiga manapun ya, karena mereka masih butuh ’sesuatu’ untuk jadi somebody. salut saya untuk band seperti Slank ,mereka contoh sukses dengan kerendahan hati dan jiwa egaliternya,seperti ilmu padi, makin merunduk makin berisi.
Peace and Love
diDot