Mau cerita sedikit pengalaman saya kemarin sewaktu naik angkutan umum. sebagai seorang manajer saya sehari2 memakai kendaraan pribadi,tepatnya punya kantor sih,bukan mobil pribadi. nah,belum lama ini saya karena suatu hal harus pulang sendiri tanpa bawa mobil. tadinya sih kepikiran mau naik taksi,tapi karena kangen naik angkutan umum (dulu saya kemana2 naik bis) dan sekalian mau mencoba busway,jadilah saya ikut teman saya nebeng sampai sudirman.
Memasuki shelter busway hati saya melonjak kegirangan, ‘ akhirnya’ kata saya dalam hati. saya naik dari depan shelter atma jaya menuju ke blok m,karena rumah saya di jakarta selatan. saat bus datang saya excited sekali sampai senyum2 sendiri. kemudian di dalam perjalanan saya mengamati seluruh bus,dan isinya. para penumpangnya cukup beragam. saya sendiri tidak kebagian tempat duduk,jadi saya bergantungan pada pegangan tangan yang telah disediakan.
Dalam perjalanan saya memperhatikan,ada sekelompok ibu2 beserta anaknya,nampaknya mereka masih baru di Jakarta,karena mereka semua cukup terpesona sewaktu melintas di depan bunderan ratu plaza,terutama anak2nya yang melihat patung raksasa. wah, ternyata bukan saya saja yang semangat naik busway,anak2 ini lebih semangat lagi melihat jalanan ibukota.cukup lama perhatian saya tertuju ke mereka.
Dalam hati saya berkata ‘enak juga naik busway,walaupun harus berdiri tapi benar2 bebas hambatan’ . kalau saya pikir rasa2nya cukup bermanfaat juga busway ini untuk orang banyak. walaupun kata teman saya yang pengusaha bus ,pengelolaan busway ini pasti merugi, ‘tunggu saja 10 tahun lagi,pasti bangkrut’ kata teman saya lagi. menurut teman saya tadi tiket busway RP 3500,- itu terlalu murah,semestinya melihat investasinya harga tiket busway itu paling murah seharusnya berada di kisaran RP 7500,- .
Teman saya menyebut banyak anomali di tubuh pengelolaan busway, katanya pemerintah kita ini lebih komunis daripada pemerintah cina.
Saya tanya ‘ kenapa,kok bisa berpendapat begitu?’
‘Gimana gak lebih parah? pemerintah cina itu walaupun sebagai negara komunis tapi fungsinya lebih sebagai regulator saja. lah di sini? ya sebagai regulator juga,sebagai executor juga,sekaligus melakukan fungsi control juga’ jawab teman saya.
‘Gimana mau bagus kalau dimonopoli semuanya , bukannya memberikan tender kepada pihak swasta dan lebih kepada mengawasi jalannya proyek,tapi malah terjun langsung ke suatu bidang yang tidak dikuasainya dengan baik ‘ lanjut teman saya tersebut.
Lebih lanjutnya teman saya tersebut menjelaskan, busway itu saat ini masih harus disubsidi setiap tahunnya dari anggaran pemerintah daerah(saya lupa jumlah yg disebutkan berapa Milyar),dan itu berarti dibayar dari uang pajak kita2 juga. mungkin pemerintah berpikir,orang kaya harus mensubsidi proyek ini,karena ini proyek untuk banyak orang,utamanya tentu rakyat yang tidak punya kendaraan pribadi alias rakyat kecil. masalah disini sebenarnya bukan subsidinya,tapi sebenarnya busway ini bisnis yang kurang visible ya,artinya kalau dari kacamata teman saya yang pengusaha itu ,katanya adalah jenis usaha yang merugi,makanya perlu dapat subsidi. menurut dia usaha jenis ini tinggal nunggu waktunya saja,seperti bom waktu. Padahal seharusnya setiap jenis usaha itu sustainable,alias dapat menjaga kelangsungan hidupnya sendiri tanpa bergantung pada yang lain. Dan juga point lainnya adalah sebuah usaha jika dimulai dari kecil sudah sehat maka jika dibesarkan seperti apapun juga pasti akan tetap sehat kan,karena pasti sudah terlihat dari awalnya.
Nah kalau busway? yah jawab sendiri aja deh. belum2 sudah besar saja kan?
Ini belum termasuk kenyataan,bahwa sedari awal korupsinya gak tanggung2, menurut teman saya yang pengusaha bus tersebut harga sebuah bus sejenis busway itu sekitar 750 jutaan per unit. tapi di anggaran pengadaan barang sudah ditulis 2 kali lipat alias 1,5 Milyar. ini belum2 sudah korupsi 750 juta per unit. bayangkan berapa uang yg dikorupsi jika ada total sekitar 1500 unit? kalkulator saya aja gak sanggup ngitungnya. duit sebesar itu tinggal bagi2 aja tuh diantara mereka2 yang menguasai proyek. demikian penjelasan teman saya tersebut.
Saya pribadi sih gak terlalu perduli dengan urusan korupsi seperti itu,yah, menurut saya itu tanggung jawab pribadi mereka dengan Tuhan di akherat nanti saja. buat saya saat ini saya hanya bisa mensyukuri adanya busway di ibukota tercinta ini dengan segala keunikannya. mudah2an pemerintah tidak tutup mata dengan kondisi ini, mau kaya boleh2 saja tapi caranya yang benar ,jangan merugikan orang banyak. daripada saya bayar pajak hanya buat mensubsidi busway kan mendingan buat anggaran pendidikan yang hingga saat ini masih sangat minim sekali jumlahnya. karena menurut teman saya yang pengusaha bus tadi, jika saja pemerintah mau menmberikan tender kepada swasta untuk mengatasi masalah2 angkutan di jakarta,teman saya yakin para pengusaha swasta punya banyak solusi lain yang usahanya sustainable dan juga profitable, artinya tidak perlu disubsidi pasti berjalan. malah teman saya yakin dapat menjalankan usaha sejenis tersebut dengan baik.
Hal ini menurut saya bagus sekali,berarti uang pajak yang saya bayarkan sehari2 dapat dipergunakan untuk hal2 lain yg lebih penting,seperti misalnya pendidikan. daripada hanya untuk mendukung ambisi pemerintah yang ingin menjalankan sendiri usaha yang tidak sustainable. sedih melihat wajah pendidikan di Indonesia sekarang,sudah mahal, mutunya juga cenderung menurun jika dibandingkan Malaysia yang kemajuannya jauh lebih pesat. konon katanya orang Malaysia belajar ke Indonesia untuk mengambil gelar S2/S3 jaman dahulu. kok sekarang kebalik ya?
Cerita saya lanjutkan dengan perjalanan saya pulang yang kemudian saya teruskan dengan naik metromini. disini semuanya lebih berbeda lagi. mulai dari kondisi metromini yg tidak terawat,sampai supir yang ugal2an. melawan arah,menerobos lampu merah. saya jadi bingung orang2 semacam ini kok bisa dapat sim ya? selain tindakannya membahayakan saya sebagai penumpangnya,tindakannya tersebut juga dapat mencelakai para pengguna jalan lainnya. masih segar dalam ingatan saya hampir saja seorang pengendara motor ditabrak oleh angkutan yang saya naiki tersebut. supir pun cuek saja waktu pengendara motor meneriakinya dengan makian,seakan2 hanya angin lalu saja (mungkin sudah biasa kali ya?)
Mau naik pesawat katanya bahaya,tapi di ibukota ini naik metromini pun juga tidak kalah berisiko daripada naik pesawat yang paling tidak aman sekalipun. cuma ya bedanya kalau pesawat mungkin perlengkapannya yang agak kurang baik,kalau angkutan lebih kepada manusianya yang kurang baik mentalitasnya. ah,tapi biar bagaimanapun saya sangat menikmati perjalanan singkat dengan angkutan umum di hari tersebut dengan segala macam problematikanya. sepanjang perjalanan saya sungguh2 menikmati suasana yang jarang saya dapatkan tersebut.
Sambil duduk di bangku plastik yang sudah agak lusuh,saya memperhatikan wajah2 manusianya. dan ketika seorang pengamen naik untuk menyanyikan lagu,walaupun orang cuek saja terhadap kehadirannya ,ia tetap menyanyi dengan sungguh2. berusaha keras menghibur penumpang yang pada kepanasan hari itu. saat lagu selesai dari sekitar 20 orang penumpang hanya ada sekitar 3 orang yang memberikan uang kepadanya,akhirnya saya berikan selembar uang seribuan kepadanya karena kasihan. sambil turun dia berkata kepada dirinya sendiri ‘alhamdulillah masih ada orang baik’. saya cuma berujar dalam hati ‘ Tuhanmu lah yang baik kepadamu,saya hanya sebagai perantara saja. Saya juga mendapat kemurahan rejeki dari Tuhan kok’. buktinya? ya saya masih punya rumah yg layak,pekerjaan yang layak,dan masih banyak hal lainnya yang Tuhan berikan kepada saya ini.
Akhirnya ketika tiba di rumah saya sudah keringatan sekali,karena hari itu cukup panas,lalu saya mandi dulu. kemudian saya kembali bersyukur dalam hati karena setiap hari saya punya kendaraan untuk mengantar saya kemana2. bahkan jika mobil tak adapun saya masih mempunyai motor bebek untuk dipakai menyelip di ibukota.Sambil mandi air hangat,semakin mensyukuri bahwa saya bisa mandi pakai air hangat di rumah, si pengamen yang tadi mungkin belum pernah mandi pakai air hangat kali ya? eh,kecuali mungkin airnya dimasak dulu,yang berarti memboroskan gas (atau masih pakai minyak tanah?). duh ,kasian sekali nasib orang2 kecil itu. Mungkin pemerintah kita perlu sesekali menikmati angkutan umum seperti yang saya lakukan ya? tapi jangan naik busway deh,itu masih terlalu bagus. biar melatih kepekaan juga terhadap kesusahan rakyatnya. apalagi jika setiap hari naik mobil mewah dengan AC yang dingin nan sejuk. uh,jadi malu rasanya melihat penderitaan orang banyak. sementara ini saya hanya bisa mensyukuri nikmat Tuhan,kalau merubah nasih orang banyak saya belum mampu. paling sebatas lingkungan kerja saya,membuat suasana jadi nyaman untuk bekerja,baru sebatas itulah usaha saya. mudah2an jika ada kesempatan saya dapat merubah lingkungan saya lebih baik lagi. dengan dimulai dari merubah diri sendiri dulu tentunya. amin
sekedar berbagi pengalaman saja,
peace and love
DOT